Assalamu’akaikum Pembaca!
Alhamdulillah
akhir-akhir ini mulai kembali banyak bermunculan film-film yang
menyajikan nilai-nilai Islam seperti 99 Cahaya di Langit Eropa,
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Haji Backpacker dan yang menutup akhir
tahun ini ialah Assalamu’alaikum Beijing. Dan kali ini saya akan
mencoba untuk me-review Assalamu’alaikum Beijing.
Assalamu’alaikum
Beijing menceritakan tentang Kehidupan Asma (Revalina S. Temat) yang
penuh lika-liku. Dimulai dengan dibatalkan pernikahannya dengan Dewa
(Ibnu Jamil), calon suaminya. Hal ini terjadi karena Dewa yang tidak
bisa menjaga kesuciannya dengan menodai gadis lain hingga hamil.
Ditengah tekanan batin yang diterima oleh Asma, ia ditugaskan untuk
menjadi reporter sebuah media asal Indonesia untuk bertugas di Beijing,
Cina. Di Cina, Asma mengisi kolom artikel berjudul Assalamu’alaikum
Beijing.
Di
Beijing Asma yang tinggal dekat dengan sahabatnya Sekar (Laudya C.
Bella) dan suaminya Sekar (Desta), tidak merasa terasingkan dengan
simbol simbol keislaman yang mereka kenakan seperti hijab. Bahkan mereka
menemukan bahwa Islam di Cina sudah mendapat tempat khusus bagi
masyarakat Cina. Islam di Cina dikenal dengan sebutan Agama yang murni
dan merupakan salah satu dari 5 agama yang diakui di Cina, kata
pemandunya Asma.
Suatu
ketika Asma yang tengah berada di dalam bis kebingungan dengan halte di
mana dia harus berhenti. Secara kebetulan seorang pria asal Cina
bernama Zhung Hwan (Morgan Oey), menolongnya dan memberitahukan letak
halte pemberhentian yang dicari Asma. Mereka akhirnya berkenalan. Ketika
Asma menyebutkan nama, Zhung Zhung (panggilan Zhung Hwan dari sekar,
dibaca Cung cung) malah menyebut nama Asma dengan Ashima. Usut punya
usut ternyata Ashima merupakan tokoh yang berada di desanya dan menjadi
legenda desanya. Zhung Hwan pun memberikan buku tentang kisah Ashima
pada Asma. Semenjak saat itu, mereka tidak pernah bertemu lagi, meski
mereka mencari satu sama lain.
Setelah
sekian lama, akhirnya mereka bertemu. Zhung Zhung ditugaskan untuk
menjadi pemandu Asma menggantikan pemandu Asma yang pulang kampung,
hehe. Mereka pun menjelajahi berbagai tempat yang berhubungan dengan
Islam untuk bahan tulisan artikel Asma. Selama perjalanan tersebut,
mereka saling bertukar pendapat terutama soal agama dan terjalin rasa
saling menyukai di antara mereka. Hingga pada suatu hari Asma mengetahui
bahwa Zhung Zhung tidak beragama dan itu menjadi pukulan pertama bagi
Asma yang mencari pendamping se-iman. Pukulan selanjutnya datang dari
Dewa yang mengunjungi Asma yang bertugas di Beijing. Dewa yang masih
keras kepala ngotot untuk memiliki hati Asma. Bahkan ia ingin
menceraikan istrinya demi Asma. Dan hal itu membangkitkan luka lama
Asma.
Saat
pukulan bertubi tubi tersebut menyerang, Asma pun jatuh sakit dan
memutuskan untuk pulang ke Indonesia tanpa memberitahu alasannya pada
Zhung Zhung padahal saat itu mereka berniat untuk melihat patung Ashima.
Asma terkena penyakit APS, sebuah sindrom atau penyakit yang membuat
darah dapat mengental sewaktu-waktu. Salah satu dampak APS tersebut
membuat Asma sempat terkena Stroke. Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Silahkan nonton di Bioskop kesayangan anda hehehe....
REVIEW
Cerita
Kalau
berbicara soal cerita, sepertinya lebih baik kalau saya mengaitkannya
dengan cerita di novelnya. Di novelnya, cerita perjuangan Zhung zhung
untuk menjadi mualaf manjadi cerita yang sangat menarik dan sangat real
(ups bocoran :p ). Kalau di novel Zhung zhung diceritakan sampai harus
berpisah dengan keluarganya demi mempertahankan imannya, di film cerita
itu tidak ada. Padahal menurut saya cerita itu sangat bagus untuk
difilmkan karena film ini akan lebih memunculkan nilai nilai perjuangan
mempertahankan iman yang sangat berguna bagi kehidupan.
Terlepas
dari hal itu, film ini tetap sangat layak untuk dinikmati. Islam dan
Peradaban Cina yang dimunculkan lewat cerita penjelajahan Asma, menjadi
sebuah poin pengetahuan baru tentang keislaman di luar negeri.
Perjuangan untuk mendapatkan cinta yang suci, bukan melalui pacaran pun
ditonjolkan di film ini. Zhung Hwan yang merasa suka pada Asma
diceritakan langsung melamar Asma tanpa ada embel-embel pacaran.
Peran
Selanjutnya
soal peran. Peran semua pemain menurut saya bagus dan menarik :D .
Tetapi ada satu hal yang menjadi pemikiran saya. Film bernilai itu kan
bukan sekedar saat satu sampai dua jam kita menontonnya tetapi akan ada
penilaian khusus, atau bahkan dibilang pengkepoan dari para penyimak
untuk memperhatikan kehidupan sehari-hari pemerannya setelah film
ditayangkan. Akan jauh lebih mengena lagi jika film ini diperankan oleh
aktor-aktris yang memang sudah memiliki image muslim yang baik dan
istiqomah dalam kesehariannya. Sehingga film ini pun tak sekedar menjadi
tontonan yang baik tetapi juga menjadi tuntunan yang baik :D .
Penutup
Bagi
saya cerita di film ini menjadi salah satu oasis baru nilai nilai
keislaman dari gempuran berbagai film yang memuat nilai-nilai negatif.
Sebagai penutup itu mari sama-sama kita mendo’akan semoga Morgan
benar-benar masuk Islam dan Mbak Revalina dan Mbak Bella untuk tetap
menggunakan Jilbabnya di kehidupan sehari-hari :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar